Rabu, 12 Juni 2013

The hot babe, Kemp Muhl

LAVENDER ROAD!



Cantik, pandai bernyanyi, bermain musik, mengarang lagu, dan akting. Itulah Kemp. Model, actress sekaligus anggota duo groupband The Ghost of a Saber-Tooth Tiger. Kemp berpacaran dengan Sean Lennon – anak John Lennon dari Yoko Ono – merangkap partner duo dalam The Ghost of a Saber-Tooth Tiger. Kemp dan Sean sudah berpacaran dari tahun 2005 jauh sebelum mereka memutuskan membuat groupband-nya di tahun 2008.

Stigma negatif, orang cantik hanya menjual kecantikannya saja rasa-rasanya tidak pantas kita sematkan pada Kemp. Kemp is a real Multi-talented also a real Multi-instrumentalist! Kemp menguasai setidaknya 10 alat musik, mulai dari gitar, bass, keyboards, harmonika, bayan (harmonika tangan),  perkusi, modern perkusi, dan terakhir dia memainkan sejenis pipa perangkat perawat rumah sakit di zaman Victorian. Alat ini dimainkan dengan cara ditiup.

Suaranya juga tidak bisa diremehkan. Meskipun tidak bernyanyi dengan cara berteriak-teriak karena musik yang diusung The Ghost of a Saber-Tooth Tiger lebih banyak adalah akustikan, tapi suara yang lembut khas Kemp sangat berkarakter dan merdu. Karena kemampuan Kemp inilah banyak pengamat musik yang mengibaratkan pasangan Sean dan Lennon layaknya John dan McCartney.

Kemp menjadi sepadan berpasangan dengan Sean yang secara genetik telah mewarisi kemampuan bermusik dari ayahnya. Kemp juga dianggap sepadan diibaratkan dengan McCartney karena keahliannya merangkai lirik-lirik romantis dan  kemampuannya membuat ballad music. But among all, yang paling penting adalah kemampuan Kemp dan McCartney dalam menekan ego para marga Lennon. Harus diakui, tidak banyak orang yang memiliki keahlian seperti ini. Namun, malang bagi pasangan John dan McCartney karena keharmonisan itu ternyata tidak dapat bertahan lama. Semoga kejadian tersebut tidak terulang bagi pasangan Sean dan Kemp.

Untuk pemilihan genre The Ghost of a Saber-Tooth Tiger, khususnya Kemp lebih cenderung bermusik di jalur avant-grade dan folk. Sedangkan dalam karir modelingnya, kemp yang tahun ini baru menginjakkan usianya ke 26 tahun, telah terjun aktif di dunia modeling dari usia 13 tahun. Sekarang bergabung dalam agency Elite Models dan menjadi salah seorang duta brand Maybelline dari tahun2011 sampai 2013. Isn’t she a heartbreaking one? Patut disayangkan memang ia sudah jatuh di dekapan seorang Sean Lennon. Tapi seperti kata orang banyak, sebelum jalur kuning melengkung, setiap orang itu masih milik bersama. Anggap saja demikian.

Yellow Submarine; Kartun dengan warna-warna psychedelia

WATCH THE FULL MOVIE HERE : https://www.youtube.com/watch?v=FDWw1uJFtII

Also with the thriller over here: 



George Danning adalah seorang filmmaker dan animator asal Kanada. George merupakan filmmaker eksentrik yang hobi membuat film surealis. Salah satunya adalah film kartun Yellow Submarine ini. Yellow Submarine bercerita tentang penyelamatan suatu tempat di bawah laut bernama Pepperland. Pepperland adalah tempat yang sangat menyenangkan yang dihuni oleh orang-orang yang suka bernyanyi. Tapi tempat ini mendapat ancaman dari Blue Meanies, sekelompok makhluk yang benci dengan musik. Mereka ingin menjadikan tempat itu menjadi suram.

Blue Meanies memiliki ramuan mujarab yang dapat merubah warna Pepperland yang mulanya ceria, sarat dengan dengan warna-warna psychadelia menjadi warna biru gelap, sehingga orang-orang yang berada di dalamnya akan ikut merasa suram dan enggan bermain musik lagi. Walikota Pepperland bergegas mengutus Old Fred, seorang pelayar untuk mencari bantuan. Old Fred berlayar dengan kapal selam berwarna kuning atau Yellow Submarine sampai ke Liverpool dan bertemu dengan Ringo Star.

Setelah mendengar cerita dari Old Fred, Ringo mengajak tiga kawannya, yakni John Lennon, George Harrison dan Paul McCartney untuk membantu Old Fred menyelamatnya kotanya. Di sepanjang perjalanannya selalu ada saja kendala yang harus dilewati. Kisah penyelamatan Pepperland menjadi sangat lucu dan sarat makna konotatif yang mengibaratkan kisah ini lebih mirip terhadap masalah youth culture era 60s. Sebagaimana yang kita ketahui era 60s adalah masa perjuangan anak muda dari budaya mainstream dan perang dingin Vietnam, yang secara harfiah dapat merenggut kebahagian anak muda dalam kehidupan sosialnya. Namun, George berhasil mengemasnya menjadi kartun yang cerdas dan menghibur.
.
Parodi disajikan melalui dialog-dialog satir antara geng penyelamat Pepperland dengan geng Blue Meanies. Jadi sebut saja geng penyelamat Pepperland mewakili kelompok anak muda yang menuntut revolusi budaya, kebebasan berekspresi, dan perdamaian sedangkan geng Blue Meanies mewakili kaum the establishment meliputi kelompok mainstream dan orang tuanya sendiri. Sedangkan warna-warna pschedelia yang tampak jelas dalam animasinya tentu berhubungan erat dengan maraknya pergerakan hippie, dan penggunaan drugs sejenis LSD dan mariyuana pada era 60s.

Film berdurasi 1 jam 30 menit ini juga menyajikan 19 soundtrack lagu The Beatles. Tentunya yang termasuk di dalamnya adalah lagu-lagu pasca Beatles menjadi semakin “kiri” dengan perubahan filosofinya dalam membuat lagu. Secara keseluruhan, film yang secara pemaknaan adalah mengangkat masalah sosial budaya ini, berhasil disajikan dengan sangat fresh di tangan George. Dan yang pasti kita akan semakin terhibur dengan lagu-lagu Beatles yang dibawakan secara parodi oleh perwakilan karakter masing-masing personil The Beatles. Film ini juga masuk dalam box-office hit di Amerika dan Inggris pada masa rilisnya. Well, sounds like favourable enough, right?

"The Beatles And The Sixties"

Beatles Revolution:



Beatles Skiffle


 Beatles Without Harrison Yet


The Cute Beatles Emerged 


 The Popular Fab Four With the Girls Fans Freenzy  


 One Day Announced as Drugs Users 


 Beatles Revolutionary Begun 


Glad Being Hippies


 Romanticism Faded


And Finally Divorced


Kenapa Beatles selalu disangkut pautkan dengan youth culture dan counterculture era 1960an? Oke, Beatles lahir dan mencapai kesuksesannya di tahun 1960an. Tapi apa penyebab Beatles selalu disangkutpautkan dengan perjuangan anak muda menuntut revolusi di tahun 1960an? bahkan dianggap sebagai pionir pergerakan hippie?

Berangkat dari group band dengan kesan “cute” yang dicintai oleh banyak gadis-gadis Inggris, Beatles kemudian bertransformasi menjadi grup band “kiri” yang diwaspadai oleh politisi dan pemimpin Negara-negara Barat. Terbayang seberapa kompleks darama dan masalah yang menimpa Beatles di era 1960an. Mereka yang mulai meniti karirnya, menjadi populer tidak hanya di Inggris namun hampir di seluruh Dunia, jadwal tur yang padat, Film, Beatlemania, Pers, kontroversi,  sampai keruntuhannya di tahun 1970. 10 tahun yang melelahkan pastinya. Namun, jangka waktu 10 tahun ternyata cukup untuk menjadikan The Beatles menjadi grup band yang teramat sangat fenomenal.

Sebenarnya modal kepopuleran Beatles tidak hanya bermodalkan lagu-lagunya yang berkelas  dan sophisticated. Namun, Beatles juga merangkainya dalam aktifitas sosial youth culture movement yang membuatnya semakin fenomenal. Proses transisi Beatles dari group band manis menjadi group band “kiri” tidak lepas dari pengaruh Bob Dylan. Bob lah yang mengingatkan mereka bahwa bermusik tidak hanya melantunkan lirik percintaan dengan melodi cengeng, tapi bermusik juga merupakan media seniman dalam menyampaikan aspirasinya. Bob juga lah yang pertama kali memperkenalkannya dengan Mariyuana yang kedepannya sangat mempengaruhi musik rock psikadelik Beatles.

Diakui John bahwa mereka sudah muak menjadi band manis idola para gadis-gadis, “ We’re fed up with making soft music for soft people and we’re fed up with playing with them too” McCartney pun menimpalinya “we’were fed up with being The Beatles we really hated that fucking four little mop-top approach. We were not boys, we were men… and [we] thought of ourselves as artist rather than just performers”. Demikian John dan McCartney sebagaimana dikutip dalam buku biografi Beatles Here, There, and Everywhere: My Life Recording the Music of The Beatles. Musik mereka lambat laun berubah haluan menjadi folk rock dan rock psychedelic. Revolusi aliran musik tersebut juga dibarengi dengan lirik-lirik musik Beatles yang berkembang semakin dewasa, sarat dengan muatan politik, sangat filosofis, surealis bahkan satir.

Penggemar Beatles dan kaum muda 60s yang sedang ramai-ramainya mengampanyekan perdamaian bahkan menganut faham hidup bebas atau hippie movement mulai mengikuti revolusi musik Beatles. Mereka kemudian mencoba memahami, menafsirkan, menganut, dan memasalkan simbol-simbol kultural dalam aktifitas politik dan musik Beatles. Musiknya dipandang sebagai  political anthems counterculture movement era 60s. Dari sini The Beatles berubah menjadi institusi kultural, politik, bahkan bisnis global.

Namun Beatles tidak lantas hilang seiring redupnya counterculture movement era 60s maupun redupnya pergerakan hippie. Nama Beatles justru tinggal melegenda dan menjadi patron bagi musik-musik berkualitas dunia. 

“Beatles and the 60s Youth Culture”

Revolusi The Beatles:


                                                                         Beatles Skiffle


Synthesizer


Thanks to Elisha Gray to be the first person who was invented an electric musical instrument in 1876. Elisha yang merupakan seorang teknisi elektro tidak sengaja menemukan metode pengaturan suara pada sebuah alat electromagnetic buatannya. Alat ini kemudian berkembang dan melahirkan jenis-jenis instrument elektronik lainnya, salah satunya adalah synthesizer. Synthesizer dapat berupa  keyboard, fingerboards, gitar, violin drum dan perkusi.

Synthesizer menjadi instrument alternatif bagi banyak musisi untuk menghasilkan suara musik yang megah dan sophisticated. Awalnya, di tahun 1970an synthpop mulai terkenal melalui musik-musik instrument karya Jean Mechel Jarre, Larry Fast, dan Vangelis. Synthpop kemudian semakin terkenal di tahun 1976 semenjak release album Berlin Trilogy oleh David Bowie yang dibantu pengerjaannya oleh salah seorang dewa musik ambient, Brian Eno.

Sekarang ini musik synthesizer, synth, atau synthpop tidak asing lagi ditelinga kita. Ada Depeche Mode, The Buggles, The Bird and the Bee, Daft Punk, Imogen Heap sampai musisi-musisi mainstream juga bermain synth pada lagunya. Sebut saja Rihana, Lady Gaga dan masih banyak lagi. Untuk lokal kita pasti sangat akrab dengan musik synthpop ala-ala Pee Wee Gaskins. Synthpop tidak menjadi genre khusus bagi musik itu sendiri. Melainkan sebuah komponen suara electromagnetic yang dapat melahirkan warna musik baru dan segar bagi sebuah karya.

Melihat perkembangan musik dunia yang semakin canggih, dan antusiasme penikmat musik terhadap musik-musik elektronik sekelas Will.i.am dan suara elektronik bervibra seperti Britney Spears, nampaknya chance  synthpop untuk semakin populer cukup besar. Yang pasti synthesizer sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri, mainstream ataupun indie, musisi ataupun penikmat musik, mereka selalu mencintai synth. 

At the first time yah, saya pikir wajib mendengarkan The Tallest Man on Earth karena wajahnya mengingatkanku seseorang dari mesin waktu Doraemon. Tapi lama-kelamaan toh saya ketagihan, liriknya adalah mantra-mantra cinta penuh dengan teka-teki and for the last reason is obviously cuz he always being associated with The Marvelous Dylan.



Renkarnasi  musik Folk Bob Dylan, The Tallest Man on Earth.
Lahir di Dalarna, Swedia, 30 tahun yang lalu dengan nama asli Kristian Matsson. Adalah seorang penyanyi folk music dengan stage name  The Tallest Man on Earth. Ia menikah dengan salah seorang musisi yang juga berasal dari Swedia, Amanda Bergman atau lebih populer dengan stage name Idiot Wind. Biasanya The Tallest Man on Earth dan istrinya, Idiot Wind melakukan konser dan touring bersama-sama. Pasangan ini memang terlihat sangat romantis. Kalau di Indonesia keromantisan stage acts sekaligus keromantisan dalam menjalin hubungan suami-istri seperti ini bisa kita lihat dalam kehidupan Endah N Rhesa.

The Tallest Man on Earth memulai karirnya di tahun 2006 dengan  merilis album EP yang sama dengan namanya, The Tallest Man on Earth. Dari awal karirnya, ia sudah menarik perhatian banyak kritikus musik karena lirik dan suaranya yang sangat luar biasa. Suaranya yang kuat dan melengking juga lirik-liriknya yang puitis dipadu permainan gitar yang canggih membuat The Tallest Man on Earth terlihat berbeda dari musisi folk lainnya.

Bagi setiap musisi baru, dikait-kaitkan dengan kemampuan musikalitas penyanyi sekelas Bob Dylan adalah sebuah prestasi membanggakan. Para kritikus menggap The Tallest Man on Earth memiliki kemampuan yang sama dengan Bob dari segi penulisan lirik lagu, cara bernyanyi, dan profilnya yang kharismatik. Menanggapi komentar itu, The Tallest Man on Earth melalui video youtube-nya mengatakan, “I don’t consider my work to be part of any tradition. This is How I play. This is How I write songs”.

Namun, ia juga mengakui lagu-lagu Bob banyak menginspirasi karya-karyanya. Selain penyanyi folk Amerika seperti Pete Seeger dan Woody Guthrie. Bagi yang penasaran ingin membandingkan The Tallest Man on Earth dan Bob Dylan, coba cek video The Tallest Man on Earth meng-cover lagu Bob Dylan,  berjudul I Want You. Jika belum puas, mendengarkan singles album The Tallest Man on Earth cukup untuk membangkitkan apetite kamu untuk mendengarkan lagu-lagunya yang lain. Guaranteed!